Thursday, November 01, 2012

Sosial Media dan Anak Muda Papua Reviewed by Bernard Agapa Date November 01, 2012 Rating: 3

Sosial Media dan Anak Muda Papua



Sebuah pertanyaan yang sering muncul adalah, apakah Sosial Media berpengaruh dalam kehidupan sosial anak muda Papua?

85% Pengguna Internet Anak Muda Papua Menggunakan Sosial Media

Jumlah 85 % dari pengguna ini bukan hasil studi sebuah lembaga terhomat, tetapi perkiraan saya. Sejak tahun 2008, pengguna internet di Papua, khususnya di kalangan muda cukup meningkat sekitar 40% dan menjadi 70% pada tahun 2010. Di beberapa media sosial yang saya gunakan sejak akhir 2009, saya menemukan beberapa teman muda yang cukup rajin memposting di forum diskusi, blog, jaringan sosial seperti Facebook dan MySpace.

Jejaring sosial digunakan oleh remaja untuk berbicara tentang kehidupan mereka pada umumnya , juga berbicara tentang apa yang mereka lakukan sehari-hari. Bahkan mereka menunjukkan eksistensi diri lewat jejaring sosial untuk mengatakan di mana mereka pergi atau tempat-tempat yang mereka sukai untuk didatang. Namun tidak semua, karena banyak remaja yang menggunakan jaringan sosial untuk mengkritik, berdiskusi atau untuk menemukan suatu peluang bisnis baru ataupun info pendidikan.

Jaringan sosial untuk baik dan jahat

Generasi muda Papua saat ini tumbuh dengan internet di ujung jari mereka, terlebih lagi generasi 2000-an. Pertanyaan besar bagi orang tua yaitu apakah hal ini akan berdampak ketika mereka dewasa nanti? Apakah mereka lebih ramah dibandingkan dengan generasi tanpa internet? Hidup bersosialisasi bagi remaja sangat menyenangkan, dan dari kehidupan bersosialisasi itu, banyak orang tua yang tidak menyadari perkembangan pergaulan anaknya. Lewat jejaring sosial, orang dapat saling komunikasi walaupun jaraknya jauh. Memberikan data privasi mereka, nomor telepon, alamat, bahkan data keluarga serta hal lain yang seharusnya tidak di ekspos. Siapapun dapat langsung berkenalan, meskipun tanpa mengetahui latar belakangnya. Celakanya lagi, berbagai pemahaman dapat dengan mudah masuk ke remaja bila tidak ada filter yang kuat di kehidupan anak tersebut.

Banyak contoh yang terjadi di masyarakat. Penggunaan jejaringan sosial biasanya mengarah ke pertemuan . Bila dirasiokan 3 dari 10 akan mengalami stres atau perlakuan asusila dengan pedofil . Selain itu, perilaku mereka juga berubah dalam kehidupan nyata, julukan-julukan serta nama nickname yang digunakan oleh remaja bisa mengakibatkan duplikasi kepribadian. Perubahan kepribadian akan terjadi sesuai mau mereka dalam sikap, tergantung kepada siapa mereka berbicara. Kejahatan yang terjadi akibat terlalu banyaknya informasi yang dibagikan di jejaring sosial. Alamat, telepon, foto-foto, semuanya ditayangkan di kolom profil tanpa di proteksi siapa yang boleh melihatnya. Seorang Remaja di Amerika kemasukan perampok di dalam rumah hanya karena menulis status :"Dirumah lagi sendiri, Orang tua keluar kota"

Kita tidak boleh menyalahkan media jejaring sosial, karena semua kembali kepada penggunanya. Jejaringan sosial juga mungkin terbukti menjadi penyelamat. Ada 7 kasus di mana jaringan sosial telah menyelamatkan nyawa. Satu contoh adalah kasus remaja mencoba bunuh diri. "Pada musim semi 2009, seorang remaja Inggris menulis di Facebook ke seorang teman Amerikanya bahwa ia akan bunuh diri. Pacar dan ibunya segera diberitahu: ibu lalu menelepon polisi setempat, lalu menghubungi Kedutaan Besar Inggris, yang mengirim sebuah tim sehingga gagal bunuh diri. Hal ini lalu ditemukan sebagai overdosis obat-obatan.

Akhir Kata

Sedikit ulasan di atas menunjukkan bahwa ada jejaring sosial pada remaja yang berpengaruh baik atau buruk. Namun, lingkungan sosial-lah yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan dan perilaku individu. Jadi jaringan sosial berbahaya untuk beberapa tapi tidak bagi yang lain, semuanya tergantung pada kepribadian remaja itu sendiri.

Namun dari semua ini pendidikanlah yang menentukan masa depan generasi muda Papua, sosial media hanya secuil masalah dari persoalan Papua yang besar..

Semoga..


EmoticonEmoticon