Minimnya Lembaga PERS MAHASISWA Di Papua





Media massa terus berkembang dengan pesat, bermunculan di berbagai belahan dunia, mulai dari media visual hingga media cetak. Kebanyakan media berawal dari kecil, hingga menjadi penguasa media kawasan seperti Kompas, BBC, Aljazeerah, CNN, New York Time dan yang lainnya. 

Hingga masuk ke jawa banyak koran kampus, lembaga pers mahasiswa, komunitas-komunitas pers mahasiswa online yang tersebar dimana-man. Tetapi hal itu tidak ada Papua, bahkan hampir sebagian besar kampus di Papua tidak memiliki lembaga Pers, sekalipun itu UNCEN (Universitas Cendrawasih. Jika kita membuat perbandingan kampus Univesitas Bung Karno yang swasta saja memiliki Lembaga Pers Mahasiswa http://www.lpmmarhaenubk.com/, bagaimana dengan kampus-kampus di Papua yang terus mendidik dan melahirkan para sarjana?? Khususnya UNCEN dan UNIPA.

Di jaman digital ini, mahasiswa Papua dituntut menjadi agen perubahan dan tulang punggung rakyat. Karena pada dewasa ini mahasiswa harus bisa melindungi dan memberikan pendidikan politik, ekonomi, sosial budaya yang baik kepada rakyat Papua yang hampir sebagian besar masih hidup secara komunal.

Secara hukum maupun aturan lembaga pendidikan melegalkan keberadaan pers Mahasiswa didalam suatu lingkungan kampus. Keberadaan pers mahasiswa berpengaruh besar turut mengontrol kebijakan akademik yang sering sewenang-wenang. Pers Mahasiswa juga menjadi tolak ukur perkembangan kualitas mahasiswa yang menjadi sarjana.

Mahasiswa tentu dituntut menjadi PANDAI, PINTAR dan berbagai macam label yang lainnya untuk sebatas mengejar IPK. Tetapi pada era digital ini mahasiswa Papua seharusnya turut mengikuti perkembangan jaman, bukan narsis di sosmed melulu.  Arus perkembangan digital hari ini kita sama-sama tahu bahwa tak akan ambil pusing dengan kesulitan rakyat kecil di pesisir pantai ataupun pedalaman Papua yang tak tersentuh oleh teknologi dan perkembangan dunia luar. Inilah yang menjadi tugas utama mahasiswa! Tanpa bermaksud mengecilkan gerakan mahasiswa sekarang, demontrasi bukanlah satu-satu jalan penyelesian masalah, tetapi melalui menulis juga bisa mendidik rakyat tak hanya mahasiswa EPEN tetapi juga masyarakat umum,

Hal yang patut dipertanyakan dalam kekosongan lembaga Pers Mahasiwa di kampus-kampus Papua, apakah Pihak kampus yang menutup akses untuk melaksanakan aktifitas pers kampus? atau mungkin mahasiswa yang "EPEN" dengan situasi yang ada?. Jika kedua hal ini terjadi maka, turut juga membenarkan banyak kampus di Papua turut mendidik "Mahasiswa Epen" dan melahirkan banyak "SARJANA EPEN". 

Semoga...